Silahkan....
Sabtu, 02 Mei 2009
RAJA FARIS DAN KUDANYA YANG MATI
Nauf dikenal sebagai pengikut setia Nabi Isa alahissalam. Karenanya, ia pun berusaha mengembangkan ajaran tauhid yang dibawa Nabi Isa ke berbagai pelosok negeri. Suatu saat ia mendengar ada seorang raja bernama Faris di daerah Iran yang belum menganut agama tauhid yang dibawa Nabi Isa. Maka ia pun segera pergi ke negeri tersebut dengan misi utama mengemban da’wah.
Sesampainya di gerbang ibukota kerajaan, ia melihat sekelompok anak-anak kecil yang tengah bermain dengan asyiknya. Dan Nauf ikut nimbrung dalam permainan tersebut, lalu berhasil menjadi pemenang. Salah seorang dari mereka pun mengajak ke rumahnya. Kebetulan anak tersebut adalah anak pejabat tinggi di kerajaan. “Mintalah izin dahulu kepada ayahmu”, kata Nauf.
Sang anak pun meminta izin kepada ayahnya dan diperbolehkan untuk singgah di rumahnya. Sesampainya di rumah pejabat tersebut, Nauf mengucapkan kalimat Bismillaahirrahmaanirrahiim yang membuat setan-setan yang ada di rumah pejabat itu lari tunggang langgang. Rumah itu memang dihuni oleh setan-setan yang bergentayangan.
Kehadiran Nauf yang bisa mengusir setan-setan itu mengundang keheranan pejabat tersebut. “Saya melihat beberapa keajaiban yang belum pernah aku saksikan. Sejak engkau memasuki rumah kami, setan-setan yang ada di rumah kami pada kabur, padahal selama ini sudah banyak upaya yang kami lakukan tapi setan-setan itu tetap saja betah di rumahku”, kata pejabat tersebut.
Nauf menjelaskan, “Memang aku memiliki keistimewaan. Aku akan menceritakan semuanya kepada tuan, tapi tuan berjanji jangan cerita kepada siapa pun, tanpa seizin aku”, katanya. Pejabat tersebut pun menyanggupi.
Lantas Nauf melanjutkan, “Sesungguhnya Nabi Isa mengutus aku datang kemari dengan tujuan untuk menyembah kepada Allah SWT dan tidak mempersekutukannya. “Pejabat tinggi tersebut lantas menyatakan keimanannya pada Allah SWT. Namun ia
masih menyembunyikan keimanannya. Beberapa hari kemudian, sang pejabat itu menghadap Raja Faris.
Rupanya Raja Faris sedang gundah, karena kuda kesayangannya mati.
Kegalauan Raja Faris itu merebak ke seluruh negeri, termasuk kepada pejabat tinggi tersebut.
“Tuan Nauf, raja kami sedang gundah, karena kuda kesayangannya telah mati. Beliau tidak mau menaiki kuda yang lain dan tidak mau menyentuh barang-barang lain. Beliau sangat kehilangan”, katanya.
Mendengar hal itu, Nauf lantas minta pejabat itu untuk mengabarkan kedatangannya. “Katakan pada raja, ada seorang tamu yang bisa menghidupkan kembali kudanya atas seizin Allah. Dengan syarat raja tersebut menuruti segala yang aku perintahkan”, kata Nauf.
Pejabat tinggi itu pun kembali ke raja. Dia katakan sebagaimana yang diperintahkan oleh Nauf. Ternyata raja menyanggupi syarat yang disampaikan oleh Nauf. Lantas pejabat itu kembali ke rumahnya dan mengabarkan hal itu pada Nauf, yang kemudian mendatangi istana untuk segera menghidupkan kembali kuda tersebut.
Kedatangan Nauf disambut hangat raja Faris. “Wahai Nauf aku telah mendengar kehebatanmu. Sekarang engkau hidupkan kembali kuda kesayanganku”.
Kemudian Nauf mengundang semua warga kerajaan. Mulai anak-anak raja, istri dan sanak keluarga raja sampai ke seluruh lapisan masyarakat.
Lalu Nauf memulai aksinya. Dia perintahkan raja dan ratu untuk memegangi kaki kuda satu satu. Sedangkan Nauf sendiri memegangi kaki yang satunya. Lalu ia mengucapkan lafadz, “Laa ilaha illallah”, maka bergeraklah satu kaki kuda yang dipegang Nauf.
Selanjutnya Nauf memerintahkan kepada raja, “Wahai raja sekaranglah giliran paduka mengucapkan Laa ilaha illallah. Raja pun menuruti perintah itu. Tak lama kemudian kaki yang dipegang raja itu pun bergerak-gerak. Selanjutnya Nauf memerintahkan kepada kerabat kerajaan untuk mengucapkan kalimat sama, maka kaki-kaki kuda yang dipeganginya pun bergerak-gerak.
Tinggal badan kuda yang belum mau bergerak. Lalu Nauf memerintahkan kepada seluruh warga kerajaan untuk mengucapkan kalimat tauhid itu. Subhanallah, tiba-tiba kuda yang mati itu bisa hidup kembali.
Melihat kejadian yang dialaminya, maka seluruh warga kerajaan yang dipimpin Raja Faris menyatakan keimanannya kepada Allah SWT. Mereka meninggalkan agamanya yang sesat dahulu.
Sesampainya di gerbang ibukota kerajaan, ia melihat sekelompok anak-anak kecil yang tengah bermain dengan asyiknya. Dan Nauf ikut nimbrung dalam permainan tersebut, lalu berhasil menjadi pemenang. Salah seorang dari mereka pun mengajak ke rumahnya. Kebetulan anak tersebut adalah anak pejabat tinggi di kerajaan. “Mintalah izin dahulu kepada ayahmu”, kata Nauf.
Sang anak pun meminta izin kepada ayahnya dan diperbolehkan untuk singgah di rumahnya. Sesampainya di rumah pejabat tersebut, Nauf mengucapkan kalimat Bismillaahirrahmaanirrahiim yang membuat setan-setan yang ada di rumah pejabat itu lari tunggang langgang. Rumah itu memang dihuni oleh setan-setan yang bergentayangan.
Kehadiran Nauf yang bisa mengusir setan-setan itu mengundang keheranan pejabat tersebut. “Saya melihat beberapa keajaiban yang belum pernah aku saksikan. Sejak engkau memasuki rumah kami, setan-setan yang ada di rumah kami pada kabur, padahal selama ini sudah banyak upaya yang kami lakukan tapi setan-setan itu tetap saja betah di rumahku”, kata pejabat tersebut.
Nauf menjelaskan, “Memang aku memiliki keistimewaan. Aku akan menceritakan semuanya kepada tuan, tapi tuan berjanji jangan cerita kepada siapa pun, tanpa seizin aku”, katanya. Pejabat tersebut pun menyanggupi.
Lantas Nauf melanjutkan, “Sesungguhnya Nabi Isa mengutus aku datang kemari dengan tujuan untuk menyembah kepada Allah SWT dan tidak mempersekutukannya. “Pejabat tinggi tersebut lantas menyatakan keimanannya pada Allah SWT. Namun ia
masih menyembunyikan keimanannya. Beberapa hari kemudian, sang pejabat itu menghadap Raja Faris.
Rupanya Raja Faris sedang gundah, karena kuda kesayangannya mati.
Kegalauan Raja Faris itu merebak ke seluruh negeri, termasuk kepada pejabat tinggi tersebut.
“Tuan Nauf, raja kami sedang gundah, karena kuda kesayangannya telah mati. Beliau tidak mau menaiki kuda yang lain dan tidak mau menyentuh barang-barang lain. Beliau sangat kehilangan”, katanya.
Mendengar hal itu, Nauf lantas minta pejabat itu untuk mengabarkan kedatangannya. “Katakan pada raja, ada seorang tamu yang bisa menghidupkan kembali kudanya atas seizin Allah. Dengan syarat raja tersebut menuruti segala yang aku perintahkan”, kata Nauf.
Pejabat tinggi itu pun kembali ke raja. Dia katakan sebagaimana yang diperintahkan oleh Nauf. Ternyata raja menyanggupi syarat yang disampaikan oleh Nauf. Lantas pejabat itu kembali ke rumahnya dan mengabarkan hal itu pada Nauf, yang kemudian mendatangi istana untuk segera menghidupkan kembali kuda tersebut.
Kedatangan Nauf disambut hangat raja Faris. “Wahai Nauf aku telah mendengar kehebatanmu. Sekarang engkau hidupkan kembali kuda kesayanganku”.
Kemudian Nauf mengundang semua warga kerajaan. Mulai anak-anak raja, istri dan sanak keluarga raja sampai ke seluruh lapisan masyarakat.
Lalu Nauf memulai aksinya. Dia perintahkan raja dan ratu untuk memegangi kaki kuda satu satu. Sedangkan Nauf sendiri memegangi kaki yang satunya. Lalu ia mengucapkan lafadz, “Laa ilaha illallah”, maka bergeraklah satu kaki kuda yang dipegang Nauf.
Selanjutnya Nauf memerintahkan kepada raja, “Wahai raja sekaranglah giliran paduka mengucapkan Laa ilaha illallah. Raja pun menuruti perintah itu. Tak lama kemudian kaki yang dipegang raja itu pun bergerak-gerak. Selanjutnya Nauf memerintahkan kepada kerabat kerajaan untuk mengucapkan kalimat sama, maka kaki-kaki kuda yang dipeganginya pun bergerak-gerak.
Tinggal badan kuda yang belum mau bergerak. Lalu Nauf memerintahkan kepada seluruh warga kerajaan untuk mengucapkan kalimat tauhid itu. Subhanallah, tiba-tiba kuda yang mati itu bisa hidup kembali.
Melihat kejadian yang dialaminya, maka seluruh warga kerajaan yang dipimpin Raja Faris menyatakan keimanannya kepada Allah SWT. Mereka meninggalkan agamanya yang sesat dahulu.
Label: Jalan Tobat Para Pendahulu
HASAN BASRI DAN MATA GADIS SOLEHA
Hasan Basri dikenal sebagai ahli fiqih dan tasawuf terkemuka di zamannya. Di masa mudanya ia tergolong pemuda parlente, wajahnya rupawan. Ia menyadari modalnya sebagai pemuda ganteng, mengisi hari-harinya dengan banyak keluar masuk kampung untuk merayu gadis-gadis cantik.
Tiap hari keluar masuk kampung untuk berjalan-jalan menelusuri kota basrah. Kadang ia berjalan kaki, kadangkala ia mengendarai kudanya. Alhasil, Hasan basri muda menjalani hidupnya dengan buram.
Suatu hari tatkala ia sedang berjalan menelusuri kampung, matanya tertumbuk pada seorang gadis cantik yang tengah berjalan sendirian. Dengan terang-terangan Hasan basri mengikutinya. Sampai sang gadis merasa risih akan ulah Hasan basri. Lalu sang gadis itu menegur Hasan basri. “Wahai pemuda apa yang engkau inginkan. Apakah engkau tidak merasa malu membuntuti seorang gadis”.
Hasan basri menjawab, “Malu pada siapa. Di sini tak ada orang lain selain kita berdua”. Sang gadis menjawab,” Malulah kepada Allah, Tuhan yang maha mengetahui setiap langkah yang dilakukan oleh makhluq-makhluq-Nya”.
Ucapan gadis tadi tidak membuat Hasan basri surut untuk mendekati gadis itu. Malah terus menerus berusaha mendekati. Rupanya Hasan basri sudah betul-betul jatuh cinta. Hingga sang gadis hilang kesabarannya. “Apa yang menjadi alasan utama sehingga engkau terus membuntutiku”, tanya gadis tersebut. Tanpa tedeng aling-aling Hasan basri berterus terang, “Sesungguhnya aku telah terpesona oleh lirikan matamu yang sayu”.
Mendengar ucapan itu, sang gadis mengatakan, “Kalau memang itu yang engkau inginkan maka aku pulang sebentar, engkau tunggulah dahulu, nanti engkau akanmendapatkan apa yang engkau inginkan,” katanya. Mendengar janji gadis tadi, berbunga-bungalah Hasan basri. Hasan basri yang memang sudah kena panah asmara, menuruti apa yang dikatakan oleh sang gadis tersebut. Ia yakin bahwa gadis itu bakal memberikan cintanya pada Hasan basri.
Tak lama berselang, datanglah seorang pelayan yang membawa nampan, dan langsung memberikan nampan itu ke Hasan basri. “Tuan inikah yang tuan inginkan dari gadis itu. Tuanku menitipkan pesan agar diberikan langsung kepada tuan”, katanya.
Betapa terkejutnya Hasan basri ketika ia membuka isi nampan itu ternyata berisikan dua buah bola mata yang masih dibasahi darah besar. Si pelayan mengatakan, “Tuan putriku berpesan, bahwa ia tidak menginginkan lirikan matanya menyebabkan orang lain berdosa”.
Mendengar penuturan itu Hasan basri gemetar. Ia tak bisa berkata apa-apa. Tubuhnya lemah lunglai, seluruh persendiannya seakan lepas satu demi satu. Hati kecilnya langsung berkata, “Celaka kau wahai Hasan basri. Cobalah kau bercermin pada gadis itu yang sangat hati-hati dalam menjaga agama dan kehormatannya”.
Dengan penuh penyesalan ia pulang ke rumah sambil menangis sepanjang jalan. Semalaman ia tak dapat memrjamkan mata, karena terus menerus dikejar rasa berdosa. Timbul keinginannya untuk menemui gadis itu dan meminta ma’af. Namun setiba di rumah gadis itu, rumahnya dalam keadaan tertutup. Ketika ditanyakan pada orang-orang di sekitarnya, ternyata gadis tersebut telah meninggal dunia, beberapa saat setelah mencongkel matanya sendiri.
Penyesalan Hasan basri makin menjadi. Berhari-hari ia menyesali kesalahan itu. Hingga pada suatu saat ia bisa tidur, ia bermimpi. Dalam mimpinya ia berdialog dengan gadis itu, “Wahai gadis mulia, aku minta ma’af, saya sudah membuat engkau menderita”.
Sang gadis menjawab, “Wahai Hasan basri, semua kesalahanmu telah aku ma’afkan malah berkat perbuatanmu aku mendapat kebahagiaan besar di sisi Allah”.
Hasan basri mengatakan, “Kalau begitu beri aku nasehat yang bermanfa’at, agar aku bisa selamat dalam menjalani hidup dan kehidupanku hingga akhir hayatku”, katanya.
Sang gadis pun memberikan nasehat, “Berdzikirlah sekalipun engkau dalam keadaan sendiri. Tobatlah dan banyak istighfar setiap pagi dan petang”.
Hasan basri melaksanakan nasehat itu. Sejak itu Hasan basri berubah total. Ia menjadi tekun beribadah, dan banyak menggali ilmu pengetahuan, hingga ia akhirnya dikenal sebagai ulama besar dalam bidang tassawuf dan fiqih.
Tiap hari keluar masuk kampung untuk berjalan-jalan menelusuri kota basrah. Kadang ia berjalan kaki, kadangkala ia mengendarai kudanya. Alhasil, Hasan basri muda menjalani hidupnya dengan buram.
Suatu hari tatkala ia sedang berjalan menelusuri kampung, matanya tertumbuk pada seorang gadis cantik yang tengah berjalan sendirian. Dengan terang-terangan Hasan basri mengikutinya. Sampai sang gadis merasa risih akan ulah Hasan basri. Lalu sang gadis itu menegur Hasan basri. “Wahai pemuda apa yang engkau inginkan. Apakah engkau tidak merasa malu membuntuti seorang gadis”.
Hasan basri menjawab, “Malu pada siapa. Di sini tak ada orang lain selain kita berdua”. Sang gadis menjawab,” Malulah kepada Allah, Tuhan yang maha mengetahui setiap langkah yang dilakukan oleh makhluq-makhluq-Nya”.
Ucapan gadis tadi tidak membuat Hasan basri surut untuk mendekati gadis itu. Malah terus menerus berusaha mendekati. Rupanya Hasan basri sudah betul-betul jatuh cinta. Hingga sang gadis hilang kesabarannya. “Apa yang menjadi alasan utama sehingga engkau terus membuntutiku”, tanya gadis tersebut. Tanpa tedeng aling-aling Hasan basri berterus terang, “Sesungguhnya aku telah terpesona oleh lirikan matamu yang sayu”.
Mendengar ucapan itu, sang gadis mengatakan, “Kalau memang itu yang engkau inginkan maka aku pulang sebentar, engkau tunggulah dahulu, nanti engkau akanmendapatkan apa yang engkau inginkan,” katanya. Mendengar janji gadis tadi, berbunga-bungalah Hasan basri. Hasan basri yang memang sudah kena panah asmara, menuruti apa yang dikatakan oleh sang gadis tersebut. Ia yakin bahwa gadis itu bakal memberikan cintanya pada Hasan basri.
Tak lama berselang, datanglah seorang pelayan yang membawa nampan, dan langsung memberikan nampan itu ke Hasan basri. “Tuan inikah yang tuan inginkan dari gadis itu. Tuanku menitipkan pesan agar diberikan langsung kepada tuan”, katanya.
Betapa terkejutnya Hasan basri ketika ia membuka isi nampan itu ternyata berisikan dua buah bola mata yang masih dibasahi darah besar. Si pelayan mengatakan, “Tuan putriku berpesan, bahwa ia tidak menginginkan lirikan matanya menyebabkan orang lain berdosa”.
Mendengar penuturan itu Hasan basri gemetar. Ia tak bisa berkata apa-apa. Tubuhnya lemah lunglai, seluruh persendiannya seakan lepas satu demi satu. Hati kecilnya langsung berkata, “Celaka kau wahai Hasan basri. Cobalah kau bercermin pada gadis itu yang sangat hati-hati dalam menjaga agama dan kehormatannya”.
Dengan penuh penyesalan ia pulang ke rumah sambil menangis sepanjang jalan. Semalaman ia tak dapat memrjamkan mata, karena terus menerus dikejar rasa berdosa. Timbul keinginannya untuk menemui gadis itu dan meminta ma’af. Namun setiba di rumah gadis itu, rumahnya dalam keadaan tertutup. Ketika ditanyakan pada orang-orang di sekitarnya, ternyata gadis tersebut telah meninggal dunia, beberapa saat setelah mencongkel matanya sendiri.
Penyesalan Hasan basri makin menjadi. Berhari-hari ia menyesali kesalahan itu. Hingga pada suatu saat ia bisa tidur, ia bermimpi. Dalam mimpinya ia berdialog dengan gadis itu, “Wahai gadis mulia, aku minta ma’af, saya sudah membuat engkau menderita”.
Sang gadis menjawab, “Wahai Hasan basri, semua kesalahanmu telah aku ma’afkan malah berkat perbuatanmu aku mendapat kebahagiaan besar di sisi Allah”.
Hasan basri mengatakan, “Kalau begitu beri aku nasehat yang bermanfa’at, agar aku bisa selamat dalam menjalani hidup dan kehidupanku hingga akhir hayatku”, katanya.
Sang gadis pun memberikan nasehat, “Berdzikirlah sekalipun engkau dalam keadaan sendiri. Tobatlah dan banyak istighfar setiap pagi dan petang”.
Hasan basri melaksanakan nasehat itu. Sejak itu Hasan basri berubah total. Ia menjadi tekun beribadah, dan banyak menggali ilmu pengetahuan, hingga ia akhirnya dikenal sebagai ulama besar dalam bidang tassawuf dan fiqih.
Label: Jalan Tobat Para Pendahulu